Irlandia 1801.
Bunyi
meriam dan senapan yang ditembakkan sangat memekakkan telinga. Walaupun
aku tidak bisa merasakan betapa menyakitkannya itu tapi tetap saja aku tidak
ingin ambil bagian dalam peperangan ini. Ada banyak kematian yang lebih
tragis didunia ini tapi mereka lebih memilih mati sia – sia disini.
Pohon
oak kering disisi kanan medan perang menjadi tempat persinggahanku, sementara mataku
terus mencari pribadi yang mengenakan kalung perak celtic kuno.
"Lord,
Awas!!!" teriak prajurit berseragam biru bersamaan dengan senapan
yang berasap.
Dibawah
bulan purnama, saat tidak ada lagi suara bising peperangan, saat hanya terdengar suara rintihan kesakitan dari
tubuh-tubuh yang terluka, aku berlutut di tepi sungai. Kali ini aku membasuh pakaian orang lain, pakaian prajurit yang sedang sekarat didalam tenda pengobatan dengan
luka bakar mesiu ditulang rusuk sebelah kiri, dia akan meninggal karena
kerusakan rongga pernafasan.
Sesuai jadwal, malam ini aku akan menyampaikan pesan
kematian pada keluarga si empunya kalung perak, tapi karena prajurit ini menyelamatkannya, untuk alasan kesetiaan dan
pengabdian, kuputuskan untuk melayani
kematiannya yang tidak seharusnya ini.
"Permisi
nona, apa yang anda lakukan diluar rumah, ditengah malam begini?" tanya seseorang dengan sopan.
Aku
terkejut. Selama ini belum ada manusia yang
melihatku secara langsung, ‘apa yang harus kulakukan?’
Kuputuskan untuk tidak
menoleh dan meneruskan kegiatanku, membersihkan darah dari pakaian ini. Namun, suaranya kembali
terdengar setelah beberapa langkah mendekatiku.
'Apa dia tidak takut padaku?'
'Apa rambut putih perak
ini tidak cukup menakutinya?' batinku.
"Nona,
anda tahu, sangat berbahaya bagi gadis muda untuk keluar rumah malam-malam
begini! Apalagi wilayah ini dekat medan perang!" serunya semakin mendekat.
'Gadis
muda?'
Aku
begitu terhibur dengan ucapannya, membuatku ingin
bercermin.
"Ah,
aku lupa! mana ada roh yang memantulkan cerminan dirinya," gumanku pelan.
"Maaf,
apa yang anda katakan?" tanyanya yang kini sudah berada tepat
dibelakangku.
“Fregredo,
Fregredo, Fregredo,” ucapku pelan bersamaan dengan lenyapnya pakaian sang
prajurit dari tanganku.
“Siapa
anda?”
“Ba...bagaimana
anda tahu nama prajuritku? Nona, anda keluarganya? Fregredo terluka, anda ingin
mengunjunginya?”
Aku
bangkit dari posisi duduk, melayang sebelum merendah agar ujung gaun putihku
menyentuh tanah, semoga dia tidak melihat keanehan itu. Penyamaran adalah
teknik yang kaum kami lakukan, dan aku memilih mengikuti gambaran diri yang
diciptakannya, ‘gadis muda’.
Mata
bening dengan manik abu-abu indah yang memantulkan cahaya bulan menjadi tatapan
pertama yang menyapaku, begitu lembut dan tenang. Wajah letihnya jelas
tersamarkan oleh ketampanan dan kebijaksanaan. Pandanganku teralihkan oleh
kilauan kalung celtic perak yang menggantung mengikuti lekukkan lehernya.
“Lord
Rossmore O’Neill,” ujarku spontan.
Pria
dewasa dihadapanku mengernyitkan dahinya, kemudian membungkuk, menghormatiku.
“Maafkan
aku nona, tapi apakan kita saling mengenal?”
Peraturan
untuk tidak berkomunikasi dengan manusia kecuali jika harus melakukan tugas, tidak
pernah kulanggar sekalipun. Tetapi saat ini, rasa pasrah dan benci yang kusimpan
sejak menerima tugas sebagai pembawa pesan kematian keluarga celtic murni,
menguap bagaikan asap. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mengabarkan
kematian untuk keluarga ini lagi. Aku ingin melindunginya.
“Siapa
nama anda, nona?” suaranya terdengar bagai nyanyian untukku.
Aku
terdiam cukup lama, lalu menggelengkan kepala perlahan.
“Aku?
Namaku? Siapa namaku?”
Senyumannya
merekah, begitu indah dan menenangkan.
“Baiklah,
kalau begitu aku akan memanggilmu Maeveen,” kata Lord Rossmore sambil melirikku
sekilas.
Lord
Rossmore memulai percakapan ringan anatara kami, membuatku semakin menyukainya,
menyukai semua yang ada padanya, matanya, bahasa, kepintarannya, wibawanya, aku
suka.
Lalu,
kesadaranku membawaku kembali, aku seorang banshee, aku tidak akan bisa hidup
berdampingan dengan manusia. Yang bisa kulakukan adalah melindunginya.
“Jangan
lanjutkan perang ini,” pintaku.
“Kenapa?”
“Anda
bisa terbunuh.”
“Kita
mungkin tahu kapan kita dilahirkan, tapi tidak ada seorangpun didunia ini yang
tahu kapan mereka akan mati, jadi hal itu tidak merisaukanku,” balas Lord
Rossmore.
‘Tapi,
aku tahu dan aku gelisah tentang itu,’ batinku.
“Lalu,
untuk apa anda melakukan peperangan ini, kalau kematian tidak merisaukan anda?”
“Ada
hal didunia ini yang harus kuperjuangkan, bangsaku perjuangkan, meskipun kita
tidak tahu akan menang atau kalah, tapi hanya dengan percaya, kami memiliki
harapan.”
“Takdir
menyebalkan!” gumanku kasar.
Bibir
merah yang dibingkai dengan tanda kepriaannya bergerak seakan ingin mengatakan
sesuatu, namun kegaduhan ditenda pengobatan mengalihkan perhatiannya. Suara rumput
kering terdengar berisik diinjak orang, serta sahutan yang memanggil namanya
terdengar semakin keras. Aku melayang secepat mungkin keatas pohon saat Lord
Rossmore memalingkan pandangannya. Aku melihatnya jelas dari sini, bagaimana
dia bingung mencariku, lalu fokusnya teralih ketika mendengar nama Fregredo
telah meninggal dunia.
Setelah
melihatnya hari itu, aku diseret paksa ke pengadilan oleh kaumku.
“Tugas
seorang Banshee hanyalah untuk menyampaikan pesan kematian pada keluarga yang
menjadi tuan kalian, bukan untuk menyapa, berbicara, berjalan beriringan, atau memikirkan
bagaimana menjauhkan dia dari kematiannya!” teriak Tuan-Para-Banshee.
“Sebagai
hukumannya, Lord Rossmore O’Neill harus mati, dan banshee keluarga ini akan membawa
langsung pesan kematian baginya malam ini!” teriaknya menyudahi keputusan.
Aku
berteriak, mengaduh, dan memberontak ditengah kegelapan. Saat ini tidak ada
yang dapat melihat wujud menakutkanku, tubuh yang hanya tulang belulang, wajah
tua yang mengering, dan manik mata seperti
butir pasir. Tak ada satupun yang akan tahan menatap kematian yang kubawa, dan
aku tidak akan mampu menyaksikan kematian dari pria yang kucintai.
Hukuman
yang dijatuhkan Tuan-Para-Banshee terlaksana sebelum aku datang ke kastil
keluarga O’Neill. Peperangan yang dimenangkan Lord Rossmore terasa tidak
berarti saat tubuh gagahnya harus terbaring diatas ranjang akibat sengatan ular
berbisa. Penderitaannya akan berakhir saat aku menyanyikan lagu pengantar
kematian baginya. Namun, itu adalah hal yang sulit untukku lakukan, sedangkan keluarga
O’Neill mulai membakar lilin, menyanyikan kidung dan berdoa agar banshee
menuntun putra, ayah, dan suami mereka menuju kematian yang tenang.
“Maeveen?”
sapanya saat aku menyusup masuk lewat jendelanya.
“Aku
Banshee,” ujarku dengan linangan air mata.
“Saat
itu, anda yang membawa pesan kematian untuk Fregredo?”
Aku
mengangguk.
“Lalu,
apa sekarang anda akan membawa kematianku?”
Aku
menahan tangisanku, tidak ingin dia melihat wujudku yang lain dari gambaran
yang dia miliki.
“Apa
pesan terakhir anda, Lord Rossmore O’Neill?”
“Tolong
bernyanyilah untukku,” pintanya.
Aku
berbalik dan melayang menuju jendela, lalu tanganku digenggamnya. Dia tersenyum
lembut, memberiku kotak kayu yang berisi sisir perak yang indah.
“Itu
hadiah untuk pemilik rambut yang indah.”
“Meskipun
anda seorang banshee, anda tetap Maeveen bagiku, dan bagi keluarga O’Neill.”
Dibalik
jendela kastil yang megah, aku menyenandungkan nyanyian kematian, senandung
sendu dan memilukan, namun disaat bersamaan aku menyanyikan lagu kasih sayang
baginya, bagi pria yang kucintai. Pria yang memberiku nama yang indah, Maeveen.
“Rossmore,
Rossmore, Rossmore.”
Malam-malam
berikutnya kematian tetaplah kematian. Pesan, nyanyian, raungan, teriakan para
banshee terdengar dirumah-rumah keluarga Irlandia. Aku? Apa yang aku lakukan?
Aku
tetap menjadi banshee, dan namaku Maeveen.
Jikalau
secara kebetulan kalian melihatku sedang membasuh pakaian disungai, sapalah,
karena aku ingin minta bantuanmu.
“Tolong
sisirkan rambutku.”
---
Cerpen ini diikutkan dalam tantangan #GadisZeus
@KampusFiksi
Panjang kata : 1057, tidak termasuk judul.
Author : @wwulland
Copyright © 2015
Peringatan: Cerita ini adalah mitos belaka. Latar
belakang cerita diambil dari kisah mistis yang sering di ceritakan di Irlandia,
tentang roh wanita yang menjadi pembawa pesan kematian, nyanyiannya terkadang
merdu, menyedihkan, atau bahkan mengerikan.
Jika kau mendengar seseorang bersenandung lembut
ditengah malam sambil memanggil namamu tiga kali, mungkin saja sebentar lagi
kematian menjemputmu!

Kak, kok sedih gini T.T tapi aku suka. Menambah pengetahuanku soal makhluk mitologi negara lain jg. Ayo kita berteman. Hehe ;)
BalasHapusEh.. sedih ya? Padahal maksudku mau bikin serem~~ buahahaha failed deh :))
HapusItu juga aku search dek, terus milih deh yang paling antimainstream.. hihihi
Tapi sepi ya Gadis Zeus ¿
Setuju sama komentar di atas. Sedih, kayak nonton drama tragedi romantis. :'(
BalasHapusDari awal udah kepikiran kayaknya mitos yg dibahas soal banshee, eh, ternyata beneran. :D
A creepy myth actually, tapi aku suka sisi drama yg kamu bawakan. ^^
Maklum anak drama kakak hahahah ~~ thank you comment nya, aku gak bakat bikin cerita horor sih.. hatiku terlalu lembut/? bhaqqq
HapusAku termotivasi deh:))
Hemm... nggak bisa komen ttg idenya, not my type soalnya. Ntar kelewat subjektif lagi menilainya.
BalasHapusCuma saya ketemu banyak typo aja sih, sasaran kena semprot mimin KF tuh :v
Wah, iyakah? hahaha kena semprot deh :v
Hapusbtw thanks udah berkunjung kak. . . kayaknya harus banyak belajar lagi nih. Ganbatte!! Hwaiting!!
Salam kenal kak, let's be friend :))
Aku suka dialognya ngalir aja gitu keren.
BalasHapusBanyak istilah asing di telingaku banshee maeveen, maklum aku gak pernah denger cerita mitologi dari irlandia hehehe,
Aku juga baru tahu tentang banshee ini waktu search bahan cerpen ini. hihiihi
Hapusmakasih pujiannya kak //kePDan bgt gw//.. terima kasih sudah berkunjung juga :)) lets be friend