Selasa, 04 Agustus 2015

|| CERPEN || Senandung Maeveen


Irlandia 1801.
            Bunyi meriam dan senapan yang ditembakkan sangat  memekakkan telinga. Walaupun aku tidak bisa merasakan betapa menyakitkannya itu tapi tetap saja aku tidak ingin  ambil bagian dalam peperangan ini. Ada banyak kematian yang lebih tragis didunia ini tapi mereka lebih memilih mati sia – sia disini.
            Pohon oak kering disisi kanan medan perang menjadi tempat persinggahanku, sementara mataku terus mencari pribadi yang mengenakan kalung perak celtic kuno.
            "Lord, Awas!!!" teriak prajurit berseragam biru bersamaan dengan senapan yang berasap.

            Dibawah bulan purnama, saat tidak ada lagi suara bising peperangan, saat hanya terdengar suara rintihan kesakitan dari tubuh-tubuh yang terluka, aku berlutut di tepi sungai. Kali ini aku membasuh pakaian orang lain, pakaian prajurit yang sedang sekarat didalam tenda pengobatan dengan luka bakar mesiu ditulang rusuk sebelah kiri, dia akan meninggal karena kerusakan rongga pernafasan.
            Sesuai jadwal, malam ini aku akan menyampaikan pesan kematian pada keluarga si empunya kalung perak, tapi karena prajurit ini menyelamatkannya, untuk alasan kesetiaan dan pengabdian, kuputuskan untuk melayani kematiannya yang tidak seharusnya ini.
            "Permisi nona, apa yang anda lakukan diluar rumah, ditengah malam begini?" tanya seseorang dengan sopan.
            Aku terkejut. Selama ini belum ada manusia yang melihatku secara langsung, ‘apa yang harus kulakukan?’
            Kuputuskan untuk tidak menoleh dan meneruskan kegiatanku, membersihkan darah dari pakaian ini. Namun,  suaranya kembali terdengar setelah beberapa langkah mendekatiku.
            'Apa dia tidak takut padaku?'
            'Apa rambut putih perak ini tidak cukup menakutinya?' batinku.
            "Nona, anda tahu, sangat berbahaya bagi gadis muda untuk keluar rumah malam-malam begini! Apalagi wilayah ini dekat medan perang!" serunya semakin mendekat.
            'Gadis muda?'
            Aku begitu terhibur dengan ucapannya, membuatku ingin bercermin.
            "Ah, aku lupa! mana ada roh yang memantulkan cerminan dirinya," gumanku pelan.
            "Maaf, apa yang anda katakan?" tanyanya yang kini sudah berada tepat dibelakangku.
            “Fregredo, Fregredo, Fregredo,” ucapku pelan bersamaan dengan lenyapnya pakaian sang prajurit dari tanganku.
            “Siapa anda?”
            “Ba...bagaimana anda tahu nama prajuritku? Nona, anda keluarganya? Fregredo terluka, anda ingin mengunjunginya?”
           
            Aku bangkit dari posisi duduk, melayang sebelum merendah agar ujung gaun putihku menyentuh tanah, semoga dia tidak melihat keanehan itu. Penyamaran adalah teknik yang kaum kami lakukan, dan aku memilih mengikuti gambaran diri yang diciptakannya, ‘gadis muda’.
            Mata bening dengan manik abu-abu indah yang memantulkan cahaya bulan menjadi tatapan pertama yang menyapaku, begitu lembut dan tenang. Wajah letihnya jelas tersamarkan oleh ketampanan dan kebijaksanaan. Pandanganku teralihkan oleh kilauan kalung celtic perak yang menggantung mengikuti lekukkan lehernya.
            “Lord Rossmore O’Neill,” ujarku spontan.
            Pria dewasa dihadapanku mengernyitkan dahinya, kemudian membungkuk, menghormatiku.
            “Maafkan aku nona, tapi apakan kita saling mengenal?”
           
            Peraturan untuk tidak berkomunikasi dengan manusia kecuali jika harus melakukan tugas, tidak pernah kulanggar sekalipun. Tetapi saat ini, rasa pasrah dan benci yang kusimpan sejak menerima tugas sebagai pembawa pesan kematian keluarga celtic murni, menguap bagaikan asap. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mengabarkan kematian untuk keluarga ini lagi. Aku ingin melindunginya.
            “Siapa nama anda, nona?” suaranya terdengar bagai nyanyian untukku.
            Aku terdiam cukup lama, lalu menggelengkan kepala perlahan.
            “Aku? Namaku? Siapa namaku?”
            Senyumannya merekah, begitu indah dan menenangkan.
            “Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu Maeveen,” kata Lord Rossmore sambil melirikku sekilas.
            Lord Rossmore memulai percakapan ringan anatara kami, membuatku semakin menyukainya, menyukai semua yang ada padanya, matanya, bahasa, kepintarannya, wibawanya, aku suka.
            Lalu, kesadaranku membawaku kembali, aku seorang banshee, aku tidak akan bisa hidup berdampingan dengan manusia. Yang bisa kulakukan adalah melindunginya.
            “Jangan lanjutkan perang ini,” pintaku.
            “Kenapa?”
            “Anda bisa terbunuh.”
            “Kita mungkin tahu kapan kita dilahirkan, tapi tidak ada seorangpun didunia ini yang tahu kapan mereka akan mati, jadi hal itu tidak merisaukanku,” balas Lord Rossmore.
            ‘Tapi, aku tahu dan aku gelisah tentang itu,’ batinku.
            “Lalu, untuk apa anda melakukan peperangan ini, kalau kematian tidak merisaukan anda?”
            “Ada hal didunia ini yang harus kuperjuangkan, bangsaku perjuangkan, meskipun kita tidak tahu akan menang atau kalah, tapi hanya dengan percaya, kami memiliki harapan.”
            “Takdir menyebalkan!” gumanku kasar.
            Bibir merah yang dibingkai dengan tanda kepriaannya bergerak seakan ingin mengatakan sesuatu, namun kegaduhan ditenda pengobatan mengalihkan perhatiannya. Suara rumput kering terdengar berisik diinjak orang, serta sahutan yang memanggil namanya terdengar semakin keras. Aku melayang secepat mungkin keatas pohon saat Lord Rossmore memalingkan pandangannya. Aku melihatnya jelas dari sini, bagaimana dia bingung mencariku, lalu fokusnya teralih ketika mendengar nama Fregredo telah meninggal dunia.
           
            Setelah melihatnya hari itu, aku diseret paksa ke pengadilan oleh kaumku.
            “Tugas seorang Banshee hanyalah untuk menyampaikan pesan kematian pada keluarga yang menjadi tuan kalian, bukan untuk menyapa, berbicara, berjalan beriringan, atau memikirkan bagaimana menjauhkan dia dari kematiannya!” teriak Tuan-Para-Banshee.
            “Sebagai hukumannya, Lord Rossmore O’Neill harus mati, dan banshee keluarga ini akan membawa langsung pesan kematian baginya malam ini!” teriaknya menyudahi keputusan.
            Aku berteriak, mengaduh, dan memberontak ditengah kegelapan. Saat ini tidak ada yang dapat melihat wujud menakutkanku, tubuh yang hanya tulang belulang, wajah tua yang mengering, dan  manik mata seperti butir pasir. Tak ada satupun yang akan tahan menatap kematian yang kubawa, dan aku tidak akan mampu menyaksikan kematian dari pria yang kucintai.

            Hukuman yang dijatuhkan Tuan-Para-Banshee terlaksana sebelum aku datang ke kastil keluarga O’Neill. Peperangan yang dimenangkan Lord Rossmore terasa tidak berarti saat tubuh gagahnya harus terbaring diatas ranjang akibat sengatan ular berbisa. Penderitaannya akan berakhir saat aku menyanyikan lagu pengantar kematian baginya. Namun, itu adalah hal yang sulit untukku lakukan, sedangkan keluarga O’Neill mulai membakar lilin, menyanyikan kidung dan berdoa agar banshee menuntun putra, ayah, dan suami mereka menuju kematian yang tenang.

            “Maeveen?” sapanya saat aku menyusup masuk lewat jendelanya.
            “Aku Banshee,” ujarku dengan linangan air mata.
            “Saat itu, anda yang membawa pesan kematian untuk Fregredo?”
            Aku mengangguk.
            “Lalu, apa sekarang anda akan membawa kematianku?”
            Aku menahan tangisanku, tidak ingin dia melihat wujudku yang lain dari gambaran yang dia miliki.
            “Apa pesan terakhir anda, Lord Rossmore O’Neill?”
            “Tolong bernyanyilah untukku,” pintanya.
            Aku berbalik dan melayang menuju jendela, lalu tanganku digenggamnya. Dia tersenyum lembut, memberiku kotak kayu yang berisi sisir perak yang indah.
            “Itu hadiah untuk pemilik rambut yang indah.”
            “Meskipun anda seorang banshee, anda tetap Maeveen bagiku, dan bagi keluarga O’Neill.”
            Dibalik jendela kastil yang megah, aku menyenandungkan nyanyian kematian, senandung sendu dan memilukan, namun disaat bersamaan aku menyanyikan lagu kasih sayang baginya, bagi pria yang kucintai. Pria yang memberiku nama yang indah, Maeveen.
            “Rossmore, Rossmore, Rossmore.”
           
            Malam-malam berikutnya kematian tetaplah kematian. Pesan, nyanyian, raungan, teriakan para banshee terdengar dirumah-rumah keluarga Irlandia.          Aku? Apa yang aku lakukan?   
            Aku tetap menjadi banshee, dan namaku Maeveen.
            Jikalau secara kebetulan kalian melihatku sedang membasuh pakaian disungai, sapalah, karena aku ingin minta bantuanmu.
            “Tolong sisirkan rambutku.”   
---

Cerpen ini diikutkan dalam tantangan #GadisZeus @KampusFiksi
Panjang kata : 1057, tidak termasuk judul.
Author : @wwulland
Copyright © 2015

Peringatan: Cerita ini adalah mitos belaka. Latar belakang cerita diambil dari kisah mistis yang sering di ceritakan di Irlandia, tentang roh wanita yang menjadi pembawa pesan kematian, nyanyiannya terkadang merdu, menyedihkan, atau bahkan mengerikan.
Jika kau mendengar seseorang bersenandung lembut ditengah malam sambil memanggil namamu tiga kali, mungkin saja sebentar lagi kematian menjemputmu!


8 komentar:

  1. Kak, kok sedih gini T.T tapi aku suka. Menambah pengetahuanku soal makhluk mitologi negara lain jg. Ayo kita berteman. Hehe ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh.. sedih ya? Padahal maksudku mau bikin serem~~ buahahaha failed deh :))
      Itu juga aku search dek, terus milih deh yang paling antimainstream.. hihihi
      Tapi sepi ya Gadis Zeus ¿

      Hapus
  2. Setuju sama komentar di atas. Sedih, kayak nonton drama tragedi romantis. :'(
    Dari awal udah kepikiran kayaknya mitos yg dibahas soal banshee, eh, ternyata beneran. :D
    A creepy myth actually, tapi aku suka sisi drama yg kamu bawakan. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maklum anak drama kakak hahahah ~~ thank you comment nya, aku gak bakat bikin cerita horor sih.. hatiku terlalu lembut/? bhaqqq
      Aku termotivasi deh:))

      Hapus
  3. Hemm... nggak bisa komen ttg idenya, not my type soalnya. Ntar kelewat subjektif lagi menilainya.

    Cuma saya ketemu banyak typo aja sih, sasaran kena semprot mimin KF tuh :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, iyakah? hahaha kena semprot deh :v
      btw thanks udah berkunjung kak. . . kayaknya harus banyak belajar lagi nih. Ganbatte!! Hwaiting!!
      Salam kenal kak, let's be friend :))

      Hapus
  4. Aku suka dialognya ngalir aja gitu keren.

    Banyak istilah asing di telingaku banshee maeveen, maklum aku gak pernah denger cerita mitologi dari irlandia hehehe,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga baru tahu tentang banshee ini waktu search bahan cerpen ini. hihiihi
      makasih pujiannya kak //kePDan bgt gw//.. terima kasih sudah berkunjung juga :)) lets be friend

      Hapus