Selasa, 13 Oktober 2015

|| CERPEN || Rahasia Yang Tersimpan


RAHASIA YANG TERSIMPAN

Matahari sudah tinggi di langit, kontras dengan kabut dan hawa dingin yang kering di bawah sini. Mengherankan jika kegelapan ini tidak menakutkan bagi mereka. Tetap saja, mereka melangkah maju tanpa rasa ngeri.

“Tolong aku!!” teriak gadis muda dari arah gua es.

“Tolong aku!! Aarghh..” dia terantuk batu, dan suara jeritannya menggema di seluruh hutan, dia tersungkur menghantam  kakiku.

Kengerian itu mendekat, dia berupa seorang lelaki kekar, kulitnya hitam karena terbakar sinar matahari, tangan kanannya menggenggam pisau besar, cukup menakutkanku, jika dia sampai menggores sedikit saja kulitku, aku pasti akan mati.

Tapi apa yang dilakukannya disini? Lalu, apa yang membuat gadis ini lari darinya? Untuk apa mereka berdua ada di tengah hutan ini?

Kupandangi gadis muda dibawah kakiku, dia lelah dan ketakutan, seluruh tubuhnya bergetar karena kengerian yang menghampirinya.

“Sudah kubilang, onee-san jangan melarikan diri, kini kau harus merasakan ketakutan itu di sekujur tubuh kecilmu itu,” suaranya serak, matanya merah menatap gadis yang dipanggilnya onee-san itu.

“Kito-kun, aku mohon jangan lakukan itu padaku, aku ini nee-sanmu, jika kau menginginkan uang itu, maka ambillah, aku akan memberikannya, aku akan mengubah ahli waris menjadi namamu, percayalah.”

"Jikalau sejak awal sikapmu manis seperti ini, aku mungkin akan mengasihani, Aiko Nee-san."

"Baiklah, ayo kita bicara baik-baik," Aiko -masih dengan bergetar- berdiri bersandar padaku.

“Terlambat,” seringainya dan udara yang bertiup perlahan serta darah yang membasahi kakiku, sontak membuatku bergetar. 

Teriakan pilu dan mengenaskan membuat para Dara beterbangan dari dahan, itu cukup untuk menggugurkan 200 daunku.

Aku membeku menatap kepergian penjagal yang berlumuran darah itu.

"Emara, apa kau baik-baik saja?" tanya Ibuku.

Aku meliriknya dengan bergetar, ketakutan itu masih terasa di sekujur tubuhku.

"Aku takut, Ibu."

Wanita perkasa itu mendekatiku, dedaunannya mengusap lembut dahan-dahanku.

"Ini yang pertama kalinya, ya? Kuatlah, kau akan lebih sering melihatnya, nak."

Kini kesunyian dan tubuh hangat yang mulai mendingin menemaniku malam ini,  esok malam, malam berikutnya, dan berikutnya lagi. 

***

‘Aku sudah membunuhnya! Aku sudah membunuh perempuan sialan yang mengambil hakku!’

'Rasakan!! Jika saja dia mau mendengar permintaanku tanpa harus menghina, aku tidak akan melakukan ini!'

Ponselku bergetar didalam saku celana, ‘Ayah.’

Moshi-moshi, Oyaji?” sapaku terbata-bata.

"Nak, apa kau bersama Aiko? Ayah tidak bisa menghubunginya."

"Mungkin dia tertidur, Oyaji. Semalam Nee-san banyak minum sake."

"Oh baiklah, kau dimana? Ayo cepat pulang, ibumu membuat sashimi kesukaan kalian," kata Oyaji.

"Baiklah, Oyaji." Ponsel kumatikan, tidak ada alasan lain yang bisa kukatakan padanya. 

Mataku menggelap, jantungku berdebar kencang, kini rasa takut menghantuiku. Tanda yang kutinggalkan pada pohon-pohon yang ada disini hilang. Jelas sekali alam menghukum perbuatanku, tapi aku tidak peduli, kematian perempuan itu lebih baik daripada kematianku.

*** 

"Darah!! Aroma darah segar. Apa ada yang bunuh diri dengan melukai dirinya?"

"Hmm, ini sangat jarang, Paman." Hidungnya yang kecil itu mulai peka terhadap sumber makanannya. Memang benar aroma darah ini mengundang peringai buas kami, sangat tidak biasa karna manusia-manusia itu lebih memilih menggantung dirinya daripada melukai tubuh mereka.

“Kwaakk... kwakkk...”

“Ayo, Paman. Itu burung pemakan bangkai!!” teriaknya dengan langkah panjang mendahuluiku.

Gagak dan Nazar beterbangan ke arah selatan hutan, menuju jalur curam ke mulut gua es. Manusia memang sulit ditebak, mereka bahkan memilih tempat yang indah untuk mengakhiri hidupnya.

“ Rubi, tunggu! Dasar anak tidak sabaran,” akupun mengikuti kecepatannya.

Semakin mendekat, aroma darah itu terasa menggaruk leherku, rasa dahaga dan lapar memenuhi otak dan tubuhku turut bereaksi pada sensasi ini. Tapi, apa ini? Tetesan darah terlihat menjauh dari arah angin yang berhembus.

Aku terhenti, Rubi sudah berlari jauh ke arah gua es, aku tidak bisa mengikutinya, ada hawa lain yang menarik perhatianku.

Secepat angin aku berlari, sudah lama rasanya tidak berburu sejak para manusia itu mengusir kami masuk jauh ke lembah Gunung Fuji.

Rasa dahaga karena aroma darah kembali merangsang minat berburuku. Cukup! Aku kembali fokus pada sensasi ini, dan menuntunku pada darah yang terus menetes.

Tubuh sekal, jangkung dan kuat. Ada pisau dibelakang tubuhnya, sementara kedua tangannya berlumuran darah. Pembunuhan. Dia baru saja menghabisi mangsanya.

Suara ranting patah membuatnya melonjak dan menengok kebelakang. ‘Sial,’ kata hatiku, dia mengeluarkan pisaunya.

“Rrrggh...” ‘Aku tidak takut padamu!’ seru batinku.

Beberapa geretakan membuatnya mundur, “Hush.. husshh.. pergi sana serigala bodoh!!”

“Berani kau maju, akan kuhabisi kau seperti Nee-sanku,” teriaknya ketakutan.

Dasar manusia tidak berguna, kau hanya mengunakan kekuatanmu pada orang yang lemah. Lihatlah, kau bahkan bergetar tak berdaya”

“WAAAAAA!!!!!!!”

“PERGII!!! PERGIIIIIIIIII!!!!!”

“AAAAAAGGGGHHH!!”   

Terkamanku mengejutkan seisi hutan, teriakannya terdengar seperti lolongan dari neraka. Tidak ada gunanya, lehernya sudah ada dalam mulutku. Darahnya mengalir perlahan kedalam tenggorokan ini, namun aromanya berbeda dengan aroma yang kuikuti tadi, tapi tak apa, makan malam sudah siap untuk seluruh anggota keluarga, tak masalah jika dagingnya tidak lezat, asal perut kami penuh sampai esok hari.

***

Aku bergidik ngeri mendengar teriakan kematian yang menyusul setelah suara gadis itu. Seharusnya aku tidak disini, bagaimana bisa lelaki penakut sepertiku memilih tempat ini sebagai kuburanku.

“Aku kembali saja,” ujarku.

“Ya, Tuhan. Bagaimana aku kembali? Aku tidak menandai jalanku,” jantungku berdebar, udara dingin yang menusuk serta keadaan jasad-jasad yang membusuk dihadapanku melumpuhkan keberanian.

Kakiku gemetaran, aku takut. Kenapa pula aku ingin bunuh diri disini? Aku memejamkan mataku, berharap arah angin membawaku ke jalan raya.  

“Krrkkk..”

‘Ibu, maafkan aku, Tuhan ampuni aku, aku tidak akan berpikir untuk bunuh diri lagi, kali ini saja tolong aku, Ayah!!’

Suara ranting patah berasal dari arah belakang. Hawa makhluk hidup dan bayangannya menggelap di sisi tubuhku. ‘Ya, Tuhan lebih baik aku serangan jantung daripada mati diterkam rubah.’

Lalu...

Suara nafas dan dedaunan yang bergesek di bawah kaki membuatku semakin merinding. ‘Kami-sama, aku tidak ingin bertemu sadako disini,’ pinta batinku.

“Aarrrgghhh....”

“Aaarrrghhh..” jeritnya terkejut seperti diriku.

Dihadapanku berdiri seorang Oba-san yang sangat tua.

Oba-san, sedang apa kau disini?” tanyaku panik. Siapa yang membiarkan orangtuanya masuk ke dalam Aokigahara!  

Oba-san tidak menjawab, dia hanya mengelus dadanya yang masih terkejut dengan teriakanku tadi.

“Maafkan aku Oba-san, ayo kita duduk dulu,” dia mengikutiku duduk. Aku memberinya air yang masih tersisa dalam botol air mineral yang kubawa.

“Minum ini,” sodorku padanya.

Kuperhatikan dia,  kuamati lagi renta tubuhnya, tiba- tiba hatiku menjadi panas, anak kurang ajar apa yang membuang orangtuanya disini? Apa mereka tidak sadar kalau selama ini orang tua inilah yang membesarkan mereka?

Oba-san, bagaimana bisa kau sampai disini?” tanyaku lembut padanya. Alam seakan mencintainya, udara tiba-tiba menjadi hangat dan dedauan bergerak perlahan untuk memberi sinar mentari pada kami.

“Aku,... Aku tidak ingin merepotkan anakku,” katanya.

Hatiku yang tawar menjadi pilu mendengarnya. Hanya satu kalimat itu dan aku merubah seluruh keputusanku.

Oba-san, jika kau tidak ingin merepotkan anakmu, repotkan saja aku. Aku tidak keberatan.”

Matanya yang sembab semakin berair memandangku, ‘Tapi, nak..”

“Tinggallah denganku Oba-san, jika ibuku masih hidup, aku tidak akan membiarkannya masuk kesini, aku mohon ikutlah denganku ke Tokyo,” pintaku.

Oba-san  kugendong dipunggungku, dan alampun seakan melindungi kami, perlahan serta dengan kelelahan yang tinggi, mataku mendengar suara kendaraan yang lalu lalang.

Jalan raya!!

Aku menengok ke belakang dan melihat Oba-san tersenyum sambil terus berterimakasih pada Tuhan dan juga pada Aokigahara.

Biarlah ini semua menjadi rahasia yang tersimpan rapat. Hanya Aokigahara dan kami, makhluk yang pernah ada disana yang tahu.

***END***

 ======

Cerpen ini diikutkan dalam tantangan #CeritaHutan @KampusFiksi
Panjang kata : 1196, tidak termasuk judul. tidak termasuk separator.
Author : @wwulland
Copyright © 2015 


P.S : Cerita diambil dari kecenderungan masyarakat Jepang yang menjadikan Hutan Aokigahara sebagai tempat bunuh diri, pembunuhan dan membuang orang tua yang sudah renta.  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar