RAHASIA YANG TERSIMPAN
Matahari sudah tinggi di langit, kontras
dengan kabut dan hawa dingin yang kering di bawah sini. Mengherankan jika
kegelapan ini tidak menakutkan bagi mereka. Tetap saja, mereka melangkah
maju tanpa rasa ngeri.
“Tolong aku!!” teriak gadis muda dari arah gua
es.
“Tolong aku!! Aarghh..” dia terantuk batu,
dan suara jeritannya menggema di seluruh hutan, dia tersungkur menghantam
kakiku.
Kengerian itu mendekat, dia berupa seorang
lelaki kekar, kulitnya hitam karena terbakar sinar matahari, tangan kanannya menggenggam
pisau besar, cukup menakutkanku, jika dia sampai menggores sedikit saja
kulitku, aku pasti akan mati.
Tapi apa yang dilakukannya disini? Lalu, apa
yang membuat gadis ini lari darinya? Untuk apa mereka berdua ada di tengah
hutan ini?
Kupandangi gadis muda dibawah kakiku, dia
lelah dan ketakutan, seluruh tubuhnya bergetar karena kengerian yang
menghampirinya.
“Sudah kubilang, onee-san jangan melarikan diri, kini kau harus
merasakan ketakutan itu di sekujur tubuh kecilmu itu,” suaranya serak, matanya
merah menatap gadis yang dipanggilnya onee-san itu.
“Kito-kun, aku mohon jangan lakukan
itu padaku, aku ini nee-sanmu,
jika kau menginginkan uang itu, maka ambillah, aku akan memberikannya, aku akan
mengubah ahli waris menjadi namamu, percayalah.”
"Jikalau sejak awal sikapmu manis
seperti ini, aku mungkin akan mengasihani, Aiko Nee-san."
"Baiklah, ayo kita bicara
baik-baik," Aiko -masih dengan bergetar- berdiri bersandar padaku.
“Terlambat,” seringainya dan udara yang
bertiup perlahan serta darah yang membasahi kakiku, sontak membuatku
bergetar.
Teriakan pilu dan mengenaskan membuat
para Dara beterbangan dari dahan, itu cukup untuk menggugurkan 200 daunku.
Aku membeku menatap kepergian penjagal yang
berlumuran darah itu.
"Emara, apa kau baik-baik saja?"
tanya Ibuku.
Aku meliriknya dengan bergetar, ketakutan itu
masih terasa di sekujur tubuhku.
"Aku takut, Ibu."
Wanita perkasa itu mendekatiku, dedaunannya
mengusap lembut dahan-dahanku.
"Ini yang pertama kalinya, ya? Kuatlah,
kau akan lebih sering melihatnya, nak."
Kini kesunyian dan tubuh hangat yang mulai
mendingin menemaniku malam ini, esok malam, malam berikutnya, dan
berikutnya lagi.
***
‘Aku sudah membunuhnya! Aku sudah membunuh
perempuan sialan yang mengambil hakku!’
'Rasakan!! Jika saja dia mau mendengar
permintaanku tanpa harus menghina, aku tidak akan melakukan ini!'
Ponselku bergetar didalam saku celana,
‘Ayah.’
“Moshi-moshi, Oyaji?” sapaku terbata-bata.
"Nak, apa kau bersama Aiko? Ayah tidak
bisa menghubunginya."
"Mungkin dia tertidur, Oyaji. Semalam Nee-san banyak minum sake."
"Oh baiklah, kau dimana? Ayo cepat
pulang, ibumu membuat sashimi kesukaan
kalian," kata Oyaji.
"Baiklah, Oyaji." Ponsel kumatikan,
tidak ada alasan lain yang bisa kukatakan padanya.
Mataku menggelap, jantungku berdebar
kencang, kini rasa takut menghantuiku. Tanda yang kutinggalkan pada pohon-pohon
yang ada disini hilang. Jelas sekali alam menghukum perbuatanku, tapi aku tidak
peduli, kematian perempuan itu lebih baik daripada kematianku.
***
"Darah!! Aroma darah segar. Apa ada yang
bunuh diri dengan melukai dirinya?"
"Hmm, ini
sangat jarang, Paman." Hidungnya
yang kecil itu mulai peka terhadap sumber makanannya. Memang benar aroma darah
ini mengundang peringai buas kami, sangat tidak biasa karna manusia-manusia itu
lebih memilih menggantung dirinya daripada melukai tubuh mereka.
“Kwaakk... kwakkk...”
“Ayo, Paman. Itu burung
pemakan bangkai!!” teriaknya dengan langkah panjang mendahuluiku.
Gagak dan Nazar beterbangan
ke arah selatan hutan, menuju jalur curam ke mulut gua es. Manusia memang sulit
ditebak, mereka bahkan memilih tempat yang indah untuk mengakhiri hidupnya.
“ Rubi, tunggu! Dasar anak
tidak sabaran,” akupun mengikuti kecepatannya.
Semakin mendekat, aroma darah
itu terasa menggaruk leherku, rasa dahaga dan lapar memenuhi otak dan tubuhku
turut bereaksi pada sensasi ini. Tapi, apa ini? Tetesan darah terlihat menjauh
dari arah angin yang berhembus.
Aku terhenti, Rubi sudah berlari
jauh ke arah gua es, aku tidak bisa mengikutinya, ada hawa lain yang menarik
perhatianku.
Secepat angin aku berlari,
sudah lama rasanya tidak berburu sejak para manusia itu mengusir kami masuk
jauh ke lembah Gunung Fuji.
Rasa dahaga karena aroma
darah kembali merangsang minat berburuku. Cukup! Aku kembali fokus pada sensasi
ini, dan menuntunku pada darah yang terus menetes.
Tubuh sekal, jangkung dan
kuat. Ada pisau dibelakang tubuhnya, sementara kedua tangannya berlumuran
darah. Pembunuhan. Dia baru saja menghabisi mangsanya.
Suara ranting patah
membuatnya melonjak dan menengok kebelakang. ‘Sial,’ kata hatiku, dia mengeluarkan pisaunya.
“Rrrggh...” ‘Aku tidak takut padamu!’ seru batinku.
Beberapa geretakan membuatnya
mundur, “Hush.. husshh.. pergi sana serigala bodoh!!”
“Berani kau maju, akan
kuhabisi kau seperti Nee-sanku,”
teriaknya ketakutan.
‘Dasar manusia tidak berguna, kau hanya mengunakan kekuatanmu pada orang
yang lemah. Lihatlah, kau bahkan bergetar tak berdaya”
“WAAAAAA!!!!!!!”
“PERGII!!!
PERGIIIIIIIIII!!!!!”
“AAAAAAGGGGHHH!!”
Terkamanku mengejutkan seisi
hutan, teriakannya terdengar seperti lolongan dari neraka. Tidak ada gunanya,
lehernya sudah ada dalam mulutku. Darahnya mengalir perlahan kedalam
tenggorokan ini, namun aromanya berbeda dengan aroma yang kuikuti tadi, tapi
tak apa, makan malam sudah siap untuk seluruh anggota keluarga, tak masalah
jika dagingnya tidak lezat, asal perut kami penuh sampai esok hari.
***
Aku bergidik ngeri mendengar
teriakan kematian yang menyusul setelah suara gadis itu. Seharusnya aku tidak
disini, bagaimana bisa lelaki penakut sepertiku memilih tempat ini sebagai
kuburanku.
“Aku kembali saja,” ujarku.
“Ya, Tuhan. Bagaimana aku
kembali? Aku tidak menandai jalanku,” jantungku berdebar, udara dingin yang
menusuk serta keadaan jasad-jasad yang membusuk dihadapanku melumpuhkan
keberanian.
Kakiku gemetaran, aku takut. Kenapa
pula aku ingin bunuh diri disini? Aku memejamkan mataku, berharap arah angin
membawaku ke jalan raya.
“Krrkkk..”
‘Ibu, maafkan aku, Tuhan ampuni aku, aku tidak akan berpikir untuk
bunuh diri lagi, kali ini saja tolong aku, Ayah!!’
Suara ranting patah berasal
dari arah belakang. Hawa makhluk hidup dan bayangannya menggelap di sisi
tubuhku. ‘Ya, Tuhan lebih baik aku
serangan jantung daripada mati diterkam rubah.’
Lalu...
Suara nafas dan dedaunan yang
bergesek di bawah kaki membuatku semakin merinding. ‘Kami-sama, aku tidak ingin
bertemu sadako disini,’ pinta batinku.
“Aarrrgghhh....”
“Aaarrrghhh..” jeritnya terkejut
seperti diriku.
Dihadapanku berdiri seorang Oba-san yang sangat tua.
“Oba-san, sedang apa kau disini?” tanyaku panik. Siapa yang
membiarkan orangtuanya masuk ke dalam Aokigahara!
Oba-san tidak menjawab, dia hanya mengelus
dadanya yang masih terkejut dengan teriakanku tadi.
“Maafkan aku Oba-san, ayo kita duduk dulu,” dia
mengikutiku duduk. Aku memberinya air yang masih tersisa dalam botol air
mineral yang kubawa.
“Minum ini,” sodorku padanya.
Kuperhatikan dia, kuamati lagi renta tubuhnya, tiba- tiba hatiku
menjadi panas, anak kurang ajar apa yang membuang orangtuanya disini? Apa mereka
tidak sadar kalau selama ini orang tua inilah yang membesarkan mereka?
“Oba-san, bagaimana bisa kau sampai disini?” tanyaku lembut padanya.
Alam seakan mencintainya, udara tiba-tiba menjadi hangat dan dedauan bergerak
perlahan untuk memberi sinar mentari pada kami.
“Aku,... Aku tidak ingin
merepotkan anakku,” katanya.
Hatiku yang tawar menjadi
pilu mendengarnya. Hanya satu kalimat itu dan aku merubah seluruh keputusanku.
“Oba-san, jika kau tidak ingin merepotkan anakmu, repotkan saja aku.
Aku tidak keberatan.”
Matanya yang sembab semakin
berair memandangku, ‘Tapi, nak..”
“Tinggallah denganku Oba-san, jika ibuku masih hidup, aku
tidak akan membiarkannya masuk kesini, aku mohon ikutlah denganku ke Tokyo,”
pintaku.
Oba-san kugendong dipunggungku, dan alampun seakan melindungi
kami, perlahan serta dengan kelelahan yang tinggi, mataku mendengar suara
kendaraan yang lalu lalang.
Jalan raya!!
Aku menengok ke belakang dan
melihat Oba-san tersenyum sambil
terus berterimakasih pada Tuhan dan juga pada Aokigahara.
Biarlah ini semua menjadi
rahasia yang tersimpan rapat. Hanya Aokigahara dan kami, makhluk yang pernah
ada disana yang tahu.
***END***
Cerpen
ini diikutkan dalam tantangan #CeritaHutan @KampusFiksi
Panjang
kata : 1196, tidak termasuk judul. tidak termasuk separator.
Author :
@wwulland
Copyright
© 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar